Orang-Orang yang Diberi Nikmat

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus, 7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

 

 

Bismillahirrahmanirrahim, puji dan syukur kehadirat Allah Azza Wa Jalla, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad Rasulullah Shalallahu `alaihi wa sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, para tabi`in, tabi`it tabi`in, dan ummatnya yang selalu berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan sunnah RasulNya.

 

Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan juga Ia berhak mencabut petunjuknya dari hamba-hamba yang dzalim, siapapun yang Ia kehendaki.

 

Sahabat, disetiap rakaat dalam shalat, tidak kurang minimal 17 kali dalam sehari kita memohonkan do`a kepadaNya untuk ditunjukan kepada Shirathol Mustaqim (jalan yang lurus).

“Ya Allah, tunjukanlah kami ke jalan yang lurus”. Jikalau ditanya, “Sebenarnya, jalan yang lurus itu jalan apa? Jalan kebaikankah atau jalan ketenangan?” Pastilah kita memiliki jawaban yang berbeda-beda, tergantung apa yang telah kita pahami. Namun, jawaban yang pasti mewakili apa yang ada dalam benak sahabat adalah “Jalan yang lurus merupakan jalannya orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT, bukan jalannya orang-orang yang dibenci oleh-Nya dan bukan juga jalannya orang-orang yang sesat”, sesuai apa yang tersurat dalam ayat berikutnya. Jelaslah dalam hal ini, Jalannya orang-orang yang sesat dan dimurkai bukanlah jalan yang kita dambakan.


Yang kita harapkan adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh-Nya. Nah, mungkin akan ada pertanyaan berikutnya seperti ini , “Lalu, yang dimaksud orang-orang yang diberi nikmat oleh-Nya itu siapa saja?” Ehm, pertanyaan yang bagus, setiap orang pun berhak untuk mendefinisikan sendiri siapa saja orang-orang yang diberi nikmat itu.

Namun alahkah lebih baik jikalau kita mencari jawabannya dari ayat lain yang menerangkan tentang siapa orang yang diberi nikmat itu selaras dengan cara kita untuk memahami “Jalan yang Lurus” tadi. Dalam surat An-Nisaa` ayat 69, Allah SWT berfirman,

 

69. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya

 

Jadi, orang-orang yang diberi nikmat itu adalah:

1. Para Nabi

Menurut istilah, Nabi ialah seorang laki-laki yang di beri khabar (wahyu) oleh Allah berupa syariat yang dahulu (sebelumnya), ia mengajarkan orang-orang di sekitarnya dari umatnya (Penganut syariat ini).

2. Shiddiiqiin

Shiddiiqiin didefinisikan sebagai orang yang memiliki keteguhan dan kepercayaan penuh akan kebenaran rasul dan siap menerima apapun resikonya demi kebenaran yang telah Ia yakini.

3. Syuhada

Adalah orang yang meninggal di jalan Allah

4. Sholihin

Sahabat, Subhanallah, disadari atau tidak, dalam setiap sholat yang telah kita lakukan, kita telah meminta untuk ditunjukan pada jalannya para nabi, para siddiqiin, para syuhada dan para Shalihin. Permohonan yang tidak hanya sekedar menginginkan keindahan dunia semata, tetapi untuk mencapai keindahan hakiki, meniti jalan ynag telah ditempuh oleh pendahulu kita, menggapai syurga-Nya dan bertemu dengan Sang Pencipta.

Setiap kali berdiri menghadap sang Pencipta dengan Penuh kekhusyuan, terdapat makna yang begitu mendalam dalam serangkaian kata yang kita lantunkan. Islam begitu indah, dalam suatu hal yang telah diwajibkan yang ‘notabene’ merupakan suatu ‘pemaksaan’ pun terdapat makna terpendam akan nilai kasih sayang-Nya kepada kita.

Dialah yang telah menuntun kita untuk bermunajat pada-Nya, padahal seandainya kita tidak melakukannya pun tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengurangi Keagungan-Nya. Begitu cintanya sang Khalik kepada makhluknya namun terkadang kita tidak mensyukuri nikmat itu. Walaupun setiap saat kita selalu meghaturkan do`a pada-Nya tetapi jika sikap dan tindakan kita tidak mencerminkan apa yang kita ucapkan, semua itu hanyalah lintasan kata tanpa makna bahkan mungkin akan menjadi saksi yang akan menjerumuskan kita kelak di Yaumul Akhir ke dalam jurang kehinaan, Na`udzubillahimindzalik. Jangan sampai kita dimasukan

Sahabat, marilah bersama kita memperbaiki diri, marilah bersama kita realisasikan janji suci kita pada sang khalik saat meminta pada-Nya untuk menggapai hakikat sebenarnya dari Jalan yang Lurus. Semoga setiap amalan kita selalu menjadi jalan bagi untuk sedikitnya mendekat pada jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh-Nya, mulai dari hal yang kecil, mulai dari sekarang dan mulai dari dari diri sendiri.

Wallahu`alam Bishawab

 

 

 

One response to this post.

  1. mudah”an kita semua di berikan kenikmatan itu..

    amiiin,…
    atau seenggaknya bisa merasakan gimna nikmatnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 50 other followers

%d bloggers like this: