Akad dan Walimatul ‘Ursy Cindra (Korwat PA Mata’ XV) dan Heru (Korum Mata’ XV)

love alquran

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perkenankan kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i pada acara Walimatul ‘Urs:

CINDRA TRI YUNIAR
(SMAN 4 Bandung, Farmasi Klinik dan Komunitas ITB 2006)

&

HERU DWI KRISMIANTO
(SMAN 5 Surabaya, Teknik Lingkungan ITB 2006)

yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Akad Nikah: Ahad, 24 Februari 2013
Pukul 08.30
bertempat di Mesjid As-Sulton KOHARMATAU
Lanud Husein Sastranegara
Jalan Kapten Tatanegara

Resepsi: Ahad, 24 Februari 2013
Pukul 11.00 – 14.00
Bertempat di Gd. Budiardjo KOHARMATAU
Lanud Husein Sastranegara
(sebrang PT Dirgantara Indonesia)

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan untuk hadir serta memberikan do’a restu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

peta lokasi:

Denah Koharmat AU

http://setengahdien.files.wordpress.com

Dialah Sang Ratu di Hatimu

Aku tak pernah benar-benar bisa menyelisik hatimu

Di mana kau tempatkan aku setelah Tuhan dan Rasul kita?

                              

Aku percaya kau, Anakku.

Orang taat agama sepertimu pasti paham perkataan Sang Nabi.

Bahwa akulah pertama, kedua, dan ketiga yang paling berhak kau istimewakan*

 

Aku percaya singgasanaku masih di sana.

Hanya saja kau kadang sedikit terlupa.

Bahwa seharusnya akulah ratu di kerajaanmu

 

Nak, Ibu tak pernah bilang kau harus pulang seminggu sekali.

Paling tidak, tengoklah kami sesekali

Selagi kami sehat dan kau pun masih kuat

 

Ibu bangga kau orang sibuk, orang penting, orang hebat!

Setidaknya sempatkanlah pulang sekaliiiii saja

Bukanlah tiga bulan liburanmu masih milikmu

Meski beberapa hari untuk rumahmu

 

Ya, Ibu tahu itu kontribusi namanya

Saat kau berlelah-lelah dari rapat ke rapat

Ibu tahu itu partisipasi namanya

Saat kau berpayah-payah dari diklat ke diklat

Ibu tahu itu amanah namanya

Saat kau berdarah-darah mengayuh perahu organisasimu

 

Ibu tidak akan menyalahkanmu

Jika kau lebih betah tinggal di kotamu

Daripada sekadar singgah di dusun kita

Yah, namanya juga desa

Mau cari internet susah

Mau cari mall juga susah..

Tapi jika kau bicara kontribusi

Bukankah pulangmu meringankan derita para tetangga

Karena anak-anak mereka yang berisik hanya mau mengaji denganmu

Juga kau bisa membantu adik-adik kelasmu

Kau masih ingat biologi, matematika, dan sedikit fisika kan?

 

 Ah, Nak

Apalah artinya delapan jam perjalanan

Jika pamrihnya adalah peluk cium ibumu

Derai tawa ayahmu

Gelak canda adikmu

 

Begitulah, Nak

Maka kutunggu kau…

setiap hari…

 

 

* Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Seorang lelaki pernah mendatangi Rasulullah, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Lelaki itu bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Lelaki itu bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Lelaki itu bertanya (lagi), ‘Kemudian siapa lagi?’ Lelaki itu menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

#Bukan iklan operator telepon seluler :

Nak, kalau tidak bisa pulang, sering-seringlah menelepon atau SMS

 

-Risha Amilia Pratiwi, MPOPS XVIII-

Janji Setia Majelis Syuro’

Kami panjatkan puji ke hadirat Allah, yang tiada Tuhan melainkan Dia.
Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Muhammad, Imam para pembaru dan penghulu para mujahid; keluarga; sahabat; dan para tabi’in.

Kami berjanji setia untuk senantiasa menyeru manusia kepada Allah,
dengan hikmah dan pengajaran yang baik.
Hingga mereka mengingkari thaghut dan beriman hanya kepada Allah.
Hingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju benderangnya cahaya Islam.

Kami juga memastikan bahwa ketika kami menyeru,
ada Qur’an di tangan kanan kami.
dan Sunah di tangan kiri kami.
serta jejak kaum salaf yang saleh dari putra-putra terbaik umat ini adalah panutan kami.

Kami menyeru umat manusia kepada Islam,
kepada ajaran-ajarannya dan kepada hukum-hukumnya.

Kami juga berjanji setia untuk menjadi batu bata yang baik bagi bangunan Islam ini.
Karena Islam menekankan perlunya pembinaan dalam agama,
yang dapat membimbing mereka kepada puncak keteladanan,
memuliakan diri dengan keagungan ilmu,
mengokohkan ikatan hatinya,
dan mengangkat derajat ukhuwahnya;
dari kata-kata dan teori menuju realita dan amal nyata.

Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia,
lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.

Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta.
Kami sering mengangankan.
Andaikan angan-angan itu bermanfaat,
bahwa suatu saat tersingkaplah isi hati kami di hadapan penglihatan dan pendengaran umat ini.
Kami hanya ingin mereka menyaksikan sendiri,
adakah sesuatu dalam hati ini selain kecintaan yang tulus, rasa kasih yang dalam, serta kesungguhan kerja guna mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi mereka?
Adakah sesuatu dalam hati ini selain lara dan perih atas musibah yang menimpa mereka?

Namun biarlah, cukup bagi kami keyakinan bahwa Allah mengetahui itu semua.
Hanya Dia-lah yang menanggung kami dengan bimbingan-Nya dalam langkah-langkah kami.
Di tangan-Nya-lah berada semua kunci dan kendali hati manusia.
Siapa yang ia sesatkan maka tak akan ada yang dapat menunjukinya, dan siapa yang ia tunjuki maka tak akan ada yang dapat menyesatkannya.
Cukuplah Dia bagi kami.
Dia-lah sebaik-baik tempat bergantung.

Sungguh, nama-nama mereka telah tercatat jauh sebelum semesta dicipta, karena pena telah lama diangkat dan tinta telah lama kering.

Reza Primawan Hudrita, MPOPS XVII-
Sumber: Majmu’atur Rasail

Payung

 

Ingatkah? Tahun lalu pada bulan September, hujan mulai sering turun, sama seperti hari-hari terakhir ini. Well, sebenarnya saya tidak terlalu ingat sejak bulan apa hujan mulai turun tahun lalu. Yang saya ingat, hanya… pada bulan September itu, hujan sering turun. Dan pada bulan itulah saya “mulai sering” membeli payung.

Ya. Mulai sering.

Entah kenapa, payung yang saya beli tidak pernah bertahan lama bersama saya. Sebabnya bermacam-macam. Pernah rusak, pernah juga dipinjam lalu tidak kembali. Dan sebab yang paling sering terjadi adalah: tertinggal lalu hilang. Periodenya juga bermacam-macam. Bisa dua minggu, seminggu, tiga hari, satu hari, bahkan tiga jam.

Suatu saat, saya shalat Dzuhur di Masjid Salman. Saat itu hujan turun sangat deras. Karena pukul 13.00 WIB saya harus kuliah dan hujan belum kunjung reda, akhirnya saya membeli sebuah payung di toko Istek Salman, dan akhirnya saya kuliah dengan selamat. Pukul 15.00 WIB, saat saya selesai kuliah, hujan sudah reda. Merasa tidak membutuhkan suatu apapun lagi, saya segera meninggalkan ruang kuliah dan pulang. Saya baru sadar kemudian, kalau payung baru saya tertinggal di depan kelas. Maka, saya titip kepada teman saya yang sedang kuliah di ruangan itu, untuk membawakannya. Keesokan harinya, teman saya membawakan payung saya. Tapi di hari itu pula, saya segera kehilangan payung saya.

Saya trauma, tidak berniat membeli payung lagi. Melihat payung secantik apapun, saya tidak mau membeli. Buat apa membeli hanya untuk beberapa hari?

Tapi, keadaan berkata lain. Saat saya hendak pergi menginap ke rumah teman di daerah Kebon Kembang, hujan turun lagi dengan sangat deras. Dan saya terpaksa membeli payung lagi. Dan… paginya, saat saya meninggalkan rumah itu, lagi-lagi saya melupakan payung saya.

Huff… saat itu, saya benar-benar tidak mau membeli payung lagi.

Tapi lagi-lagi sebuah keadaan memaksa saya untuk membeli payung. Maka hari itu, di akhir bulan November 2010, saya membeli sebuah payung berwarna biru muda. Sambil membeli, saya berazzam bahwa payung biru muda saya ini akan bertahan lebih lama daripada payung-payung saya yang lain. Dia akan bertahan bersama saya sampai 1 Februari 2011!!!

Dengan azzam saya itu, saya berusaha menjaganya baik-baik. Tapi, suatu hari, saya pulang ke rumah kontrakan saya saat hujan deras. Payung saya basah sekali. Saya tidak tega membawanya masuk ke dalam rumah, khawatir becek dan saya malas bersihin. Hehe.. Maka saya meninggalkannya di luar rumah. Keesokan harinya, payung saya sudah tidak di depan pintu. Huff… saya pasrah.

Tapi keesokan harinya, tetangga saya, yang juga pemilik rumah kontrakan saya memberikan sebuah payung. Katanya, kemarin ada payung tergeletak di depan pintu, karena khawatir hilang maka diamankan. Huaaahh… saya senang sekali. Berarti saya masih punya kesempatan untuk menjaganya.

Hari-hari berlalu, saya mulai lupa dengan azzam saya tentang payung itu. Dan payung biru muda itu masih bersama saya. Beberapa perjalanan jauh saya lakukan dengan tetap membawa payung itu. Dia selalu ikut ke manapun saya pergi.

Pada suatu hari di bulan Januari 2011, kakak saya jatuh sakit, sampai dirawat inap di Rumah Sakit di Bandung. Sepulang dari Rumah Sakit, kakak saya istirahat di rumah paman saya di Adipura, dareah Gedebage, Bandung. Maka, saya bertugas untuk membawakan beberapa barang kebutuhan kakak saya dari kosannya ke rumah paman saya itu.

Malam itu, saya naik angkot jurusan Cicaheum-Ciwastra dari Pusdai dan akan turun di ujung rute angkot itu, di dareh Derwati. Hujan turun sangat deras saat itu. Di daerah Bodogol, seorang ibu yang merupakan satu-satunya penumpang selain saya, meminta sopir angkot untuk mengantarkannya sampai depan rumahnya. Katanya, suaminya tidak bisa menjemput karena hujan deras. Setelah minta persetujuan saya, sang sopir angkot pun bersedia. Ternyata rumah si ibu itu memang jauh dari tempat turun angkot. Saya kasihan juga kalau si ibu harus naik becak atau ojek. Setelah mengantarkan ibu itu, angkot pun mengantarkan saya sampai perhentian terakhir angkot, Derwati. Hujan sudah reda saat saya sampai. Saya segera turun dari angkot lalu naik ojek, satu-satunya angkutan ke rumah paman saya.

Setelah mengucapkan salam dan masuk rumah, tiba-tiba saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Lalu saya bermonolog di tengah rumah:

“Kok kayaknya tadi Layung bawa sesuatu ya? Kok sekarang tangan Layung kosong??…”

“Ah!! Payung!!!…”

“Aaahhh… ketinggalan lagiii..!! Huuh…”

“Eh, bentar. Tanggal berapa sekarang??…”

“Wah, 1 Februari!!!”

“Masya Allah, astaghfirullah…”

“Hahahaha…”

 

***

 

 

Hari ini, saat hujan turun lagi, saat saya hampir saja meninggalkan payung saya lagi, saya mengingat kisah itu. Bukan, bukan tentang payung… Karena payung yang sekarang bersama saya, sudah lebih dari 5 bulan menemani saya.

 

Tapi, tentang keajaiban kata-kata.

 

Keajaiban azzam, yang ketika datang dari hati, yang datang dari kemuakan pada kelalaian, dan disampaikan pada Allah, maka tanpa disangka-sangka ia menjadi nyata. Bahkan terlalu nyata.

 

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (Q.S. Ali Imran : 159)

 

ITB Qur’ani, bukan mimpi. Insya Allah…….

 

-Layung Anindya Prasetyanti, MPOPS XVII-

Adakalanya Kita Harus Menerima Bahwa Kita Memang Sedikit

Hanya dua ekor kuda ditambah tujuh puluh ekor unta yang mereka miliki. Satu ekor bisa dinaiki dua sampai tiga orang dari mereka. Sedang yang lain melenggang kaki, berjalan biasa tanpa kendaraan satu pun. Dengan perbekalan seadanya saja, namun semangat mereka jauh dari seadanya. Termasuk juga Ukasyah, salah satu dari mereka yang hanya membawa pedang dari kayu akar pohon pemberian Rasulullah. Tak ada gentar baginya, kayu tersebut disandang dengan penuh kebanggan untuk dapat membela kaum muslimin. Mereka tau, di depan sana, seribu pasukan musuh menghadang. Tidak main-main, seribu orang dengan perbekalan dan persenjataan yang lengkap. Dengan dada membusung, juga wajah beringas, mereka siap menerkam pasukan kaum muslimin yang terlihat tak ada apa-apanya. Hanya pasukan biasa, dengan tiga orang berdesak-desakan dalam satu kuda, juga prajurit biasa yang bangga dengan pedang kayu. Tak ada apa-apanya.

Badar, tempat mereka melihat lautan manusia itu. Seribu, dengan persenjataan lengkap siap membantai. Lalu Rasulullah sebagai pemimpin bersiap siaga. Tak ada dari mereka yang mundur berhianat, gentar akan lautan manusia yang mereka lihat. Tidak, bahkan Al-Miqdad bin Amir berkata,

“Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana bani Israel berkata kepada Musa: Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja. Tetapi pergilah engkau bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau.”

Tak hanya Al-Miqdad, Saad bin Muadz tak rela ketinggalan,

“Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah.”

Lalu mereka menepati janjinya, bertempur dengan segalanya. Harta juga jiwa, tak sayang mereka korbankan. Tak ada yang menoleh ke belakang, bertanya-tanya, “Di mana mu’min yang lain?”. Padalah jumlah mereka hanya 317, ya… 317 dari 1000.

Dari kisah perang Badar, bahwa jumlah yang sedikit tak mustahil untuk mengalahkan jumlah yang banyak atas izin Allah. Namun hal tersebut sudah sering dibahas. Saya akan membahas hal lain yang menurut saya menarik. Saya hanya tertarik pada reaksi spontan kaum muslimin pada perang Badar. Dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit dibandingkan dengan kafilah dagang Abu Sufyan yang jumlahnya 1000, tak ada ungkapan dari mereka, “Di mana mu’min yang lain?” atau “Mengapa kami yang harus turut serta sedangkan yang lain dapat bersantai-santai di rumah?” atau “Mengapa kami yang harus dikorbankan?”. Padahal secara logis mereka kalah telak.

Menarik sekali membandingkan tingkah polah para sahabat dengan realita yang terjadi saat ini. Berapa banyak kondisi yang pada akhirnya membuat kader da’wah merasa dikorbankan/ ditumbalkan dengan amanah yang diberikan kepadanya. Padahal di mata orang lain, secara logis, ia mampu.. bahkan lebih daripada sekedar mampu mengemban amanah itu secara biasa-biasa saja. Atau ketika hanya sedikit kader da’wah yang membantu, kemudian ia mengeluh, bahwa ia merasa ditinggalkan, merasa lelah karena harus mengerjakan ini semuanya.

Mungkin kapasitas kita memang tidak sehebat para Sahabat, tetapi saya tidak bicara mengenai kapasitas. Sejak awal saya hanya membicarakan reaksi spontan, bukan kapasitas. Masalah kapasitas yang dimiliki, apakah mampu menampung beban amanah, biarlah waktu yang menjawab. Namun sejak awal reaksi, “Kenapa saya yang memikul amanah ini?” atau “Saya tidak rela jika saya berlelah-lelah mengerjakan amanah ini, sedang yang lain dapat bersantai-santai” semestinya tidak dilontarkan oleh orang-orang yang (katanya) aktivis. Pasifis namanya jika ia hanya bersantai-santai. Dengan itu, ada mindset yang perlu diluruskan terkait amanah. Terlepas dari kewajiban untuk beramal jama’i, tidak pantas ‘meminta-minta’ uluran tangan bantuan saudara yang lain untuk memikul amanah ini.

Amanah tidak akan pernah salah memilih, siapa yang ia bidik, dialah yang Allah takdirkan mampu. Jika masih merasa dikorbankan, sendiri, atau didzolimi untuk memikul beban lebih berat, pertanyaannya, ‘Apa ruginya?’, tidak cukupkah janji Allah bahwa Ia akan menolong siapa saja yang menolong agamanya? Para ahlul Badar sadar betul akan hal ini. Itulah yang membuat mereka tidak menoleh ke belakang, kemudian menghabiskan effort mereka untuk sekedar bertanya, “Kemana yang lain?”. Ternyata kita masih jauh.. Hmmpphh..

Adakalanya, terimalah bahwa jumlah kita memang sedikit. Lalu, tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk sekedar ‘menyeret-nyeret’ orang yang sejak awal memang tak ingin bergeming. Sadarilah bahwa lebih baik waktu kita digunakan untuk mencapai tujuan, bukan sekedar konsolidasi internal semata. Jika kemenangan da’wah datang, percayalah bahwa mereka akan berbondong-bondong turut serta. Terimalah bahwa kita memang sedikit, setelah itu tingkatkan kapasitas diri juga kesabaran, agar nilai diri bisa 10 kali lipat dari kondisi awal.

Tak perlu kita menoleh ke belakang, terlalu banyak hal lain yang harus kita selesaikan untuk mencapai kemenangan da’wah. Biarlah mereka yang tak mau turut serta, tak perlu turut serta. Siapa tau kita tidak tahu saja, bahwa mereka punya amal unggulan lain yang sibuk dikerjakan. Semangat Ahlul Badar harus kita contoh. Jika semua diniatkan untuk Allah, semestinya tidak perlu ada yang merasa dikorbankan atau ditinggalkan. Semua amal yang engkau kerjakan tentu akan kembali kepadamu, bukan kepada lumbung amal orang lain.

Tak perlu menoleh, yang perlu kita lakukan hanya menerima bahwa kita memang sedikit. Dan itu tidak mengindikasikan bahwa kita telah kalah. Bercermin pada kisah Badar..

 

Allahua’lam bisshowab

 

-Linda Studiyanti, MPOPS XVII-

 

 

Mereka Bilang, Kita Degradasi

Part 2#

 

Andai aku hidup di masa lalu,

tentu aku akan mengetahui bagaimana mereka berjibaku.

Namun aku memang tertakdir lahir di masa kini,

yang hanya bisa merasakan serpihan-serpihan kejayaan dari cerita mereka.

Juga hanya mereka-reka mozaik demi mozaik langkah jitu mereka..

yang entah apa itu yang mereka maksud?

 

Namun aku tetap manusia masa kini,

dengan zaman yang begitu berbeda.

Tanggung jawabku sebagai penerus,

membuat pundakku berat setiap hari.

Entah apa yang kupanggul,

yang jelas, sesuatu itu membuat punggungku sering sakit

juga seiring air mata yang meleleh

saat kulihat benih generasi baru yang kian menipis.

Menipis jumlah dan makna.

 

Namun aku tetap manusia masa kini,

yang mesti lanjut berlari.

Meski banyak mata-mata kecewa mengintai.

Maafkan,

tapi aku hanya manusia masa kini.

Aku pada hari ini pun adalah produk masa lalu.

Yang tentu saja aku sangat berterima kasih atas apa yang telah diberikan kepadaku.

Sungguh..

 

Mungkin aku hanya bagian dari degradasi,

tapi aku selalu berdoa,

semoga generasi selanjutnya tidak demikian.

Mereka harus anomali di tengah tantangan zaman,

juga kukuh atas apa yang mereka pahami.

 

Mungkin aku hanya bagian dari degradasi,

maafkan..

kuyakin, yang terbesar adalah salahku sendiri,

yang tidak belajar dengan cepat, bahkan tidak cepat dalam belajar..

Namun inilah yang kumiliki.

 

Aku hanya ingin berkata sesuatu..

sesungguhnya generasi baru kita adalah benih-benih istimewa

meski mereka tak seperti tolak ukur zaman muassis,

namun mereka punya warna sendiri,

yang jika sedikit saja kita bersabar,

kuyakin suatu saat mereka akan bersinar.

 

Sedikit lagi.. mohon bersabar..

Mohon percayalah pada kami.

Kami memang degradasi,

namun kami berjanji tidak akan diam.

Jika Allah menghendaki,

apa yang kami punya akan diberikan..

sebagai mahar tanggung jawab kami.

Semua..

Mohon doakan kami saja,

semoga Allah menetapkan kami di jalan ini.

 

Robbij’alnii muqiimassholaati wamingdzurriyatii..

Robbanaa wataqobbal du’aaa.. (14:40)

 

-Linda Studiyanti, MPOPS XVII-

Mereka Bilang, Kita Degradasi

Part 1#

Generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitannya. Sesungguhnya sejarah umat adalah sejarah para tokoh yang dilahirkannya, yang memiliki mentalitas kuat dan hasrat nan membara. Kuat lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauh mana kemampuan “rahim” umat itu melahirkan tokoh-tokohnya yang memenuhi syarat sebagai pelopor.

Bagi umat, tidak ada bekal yang dapat digunakan untuk menghadapi situasi yang buas ini kecuali hati yang sarat iman, hasrat yang kuat dan kemauan yang keras, sikap murah hati dan kesediaan berkorban, serta kesiapan terjun ke medan juang pada waktunya. Tanpa ini semua, umat akan hancur, perjuangan senantiasa menuai kegagalan, dan nasib tak menetu bakal menimpa generasinya.

Mentalitas kita—hari-hari ini—sungguh membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Cita-cita besar yang menggelayuti akal pikiran para da’i pembaharu di satu sisi, dan problematika yang demikian berat di sisi yang lain, menuntut kita untuk segera memperbaharui mentalitas dan membangun jiwa kembali dengan bentuk bangunan yang bukan sekedar sebagaimana yang pernah kita miliki; yang telah lapuk dimakan usia dan telah lenyap ditelan berbagai tragedi. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.

***

Batu pertama selalu menjadi tolak ukur bagi kelanjutan suatu hal. Demikian pula dengan generasi. Generasi awal -seperti yang sering kita dengar- selalu memiliki cerita-cerita khas mereka dengan dengan segala euforianya. Tentang bagaimana mereka dibentuk dan oleh siapa mereka dibina. Sungguh kita percaya akan segala kejayaan masa lalu itu, karena prasastinya adalah mereka—para generasi awal yang kita kenal.

Tongkat estafet terus berpindah dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Transfer nilai-nilai normatif dilakukan informal. Tidak melulu melalui teori verbal, tapi lebih sering karena proses melihat dan meniru. Apa yang dilihat, itulah yang ditiru. Semakin banyak melihat, maka semakin banyak pula meniru. Selesai meniru, lalu dikembangkan menjadi sebuah improvisasi aktif yang berbeda dengan tiruannya. Improvisasi tersebut bermula dari ketidaksesuaian dan pendapat bahwa ada hal lain yang mestinya. Lalu kemudian, mungkin inilah yang disebut gradasi. Masih gradasi kecil dan tidak terlihat.

Jika tongkat estafet terus berpindah lalu kemudian regenerasi dilakukan lagi dan lagi, maka untuk kemudian gradasi yang terjadi akan semakin banyak dan generasi ujung tidak akan tahu di mana generasi awal meletakkan batunya. Mereka mencari dan terus mencari namun hanya dapat meraba-raba di mana letak si batu. Tapi, roda zaman terus berjalan. Tak pernah roda berhenti berputar menunggu kepahaman dari generasi baru, generasi barulah yang harus mengejar dan terus mengejar agar tidak tertinggal.

Gradasi yang terjadi antara satu generasi ke generasi lainnya, baru ke lama, tentu menimbulkan efek kontras antara kondisi awal dan kondisi akhir. Untuk kemudian saya sebut ini degenerasi. Namun benarkah karena kuantitas? Sebagian mungkin ya, namun tak dapat dipungkiri bahwa seiring berputarnya roda zaman, berputar pula tipe karakternya. Perbedaan inilah yang menyebabkan respon yang berbeda terhadap sesuatu. Pemaknaan terhadap kualitas pun lalu kemudian berbeda. Meminjam istilah teman saya, bahwa bukan karena tidak berkualitas, namun ini hanya masalah karakter penyikapan. Tentu saja ini hanya untuk urusan-urusan cabang, bukan yang wajib.

Mereka bilang, kita degradasi. Hanya saja, hanya itu yang kita tau. Banyak cerita dulu yang kita dengar, namun tetap saja kita tidak pernah ada pada zaman itu, maka dari itu pengejawantahan cerita tidak pernah penuh. Lalu, bagaimana dengan roda zaman? Ia akan terus bergerak dan bergerak. Maka tugas kita lah terus mempersiapkan diri dan generasi penerus. Sebagian orang terlihat nyinyir, tak mempercayai bahwa generasi degradasi—seperti yang mereka bilang, dapat melahirkan generasi. Gradasi yang terjadi semakin parah katanya.

Kami tidak hendak diam. Dalam ketidaktahuan terhadap kondisi lalu, kami hanya berupaya bertindak mengikuti parameter kualitas pada zamannya. Setiap zaman ada rijalnya masing-masing dan kami yakin, merangkak masih lebih baik daripada diam tak bergeming. Itulah hal terbaik yang dapat kami usahakan. Dan tak pernah ada dalam pikiran kami, bahwa kami ingin lebih baik daripada generasi penerus kami. Biarkan mereka lebih baik dan jauh melampaui kami. Baik, dengan tolak ukur kualitas baik dimana zamannya berada. Dan pikiran inilah yang terus melekat. Mungkin

kami tak tahu apa itu terbaik, tapi kami ingin selalu tahu bagaimana terus menjadi lebih baik.

Biidznillah.

Bangkitlah, Harapan itu Masih Ada.

Sungguh, harapan itu masih ada.

Jika hari gelap, mungkin saja sebentar lagi matahari kan terbit.

Wallahua’lam bisshowab.

220910

 

-Linda Studiyanti, MPOPS Mata’ XVII-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers