Ukhuwah Itu …

ukhuwah

Ukhuwah dalam kerangka kecintaan kepada Allah SWT

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila di dalam dirinya ada tiga hal. Pertama, menjadikan Allah SWT dan rasul-Nya lebih dicintai dari siapapun. Kedua, mencintai seseorang hanya karena Allah semata dan tidak karena yang lain. Ketiga, benci untuk kembali ke jalan kekafiran, sebagaimana benci bila dirinya dilempar ke neraka.

Hadits di atas merupakan sebuah gambaran besar tentang satu paket cinta yang terdiri dari tiga unsur. Cinta pertama adalah tujuan hidup. Cinta kedua adalah teman dan sahabat hidup. Cinta ketiga adalah rambu-rambu hidup. Tujuan hidup bentuknya adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai melebihi cinta yang lainnya. Cinta kedua adalah mencintai orang lain karena Allah semata, yang berarti akan menjadi sahabat dan kawan dalam perjalanan. Cinta ketiga, bentuknya adalah konsekuensi dari cinta itu sendiri, berupa rasa benci terhadap lawan dari cinta-cinta di atas, yaitu benci pada kekufuran dan neraka.

Sebagai seorang mu’min, menjadikan Allah lebih kita cintai dari segalanya merupakan keharusan. Bahkan ke sanalah semua perjalanan hidup kita sandarkan. Di dalam Al-Quran sendiri komparasi yang dipakai pun sangat jelas. Yaitu apabila kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ada ancaman bagi kita.

Dalam firman-Nya :

Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah : 24)

Tujuan besar itu akan mengantarkan kita pada sebuah perjalanan hidup yang panjang dan rumit dalam pencapaiannya. Dimana setiap liku jalannya, belokan tajamnya, adalah sunnatullah yang harus dihadapi. Belum lagi egoisme pribadi dan hembusan-hembusan syetan yang merintangi kita di setiap sisi. Tentunya kita tak pernah bisa hidup sendirian di sini, kita tak pernah bisa mencapai tujuan itu sendirian saja.

Di sinilah konteks hadits tersebut memberikan maknanya, yaitu tentang sebuah ikatan hati dan jiwa dalam Islam, atau sering kita sebut ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah islamiyah merupakan cerminan cinta ke dua dari hadits yang disebutkan di atas. Ikatan tersebut merupakan ikatan yang murni karena kesamaan aqidah, yang tidak dibatasi oleh suku, ras, harta, jenjang pendidikan, atau tingkat intelektualitas. Ukhuwah Islamiyah adalah ikatan yang murni hanya karena kesamaan cinta kepada Allah SWT semata.

Hak- hak Ukhuwah

Ukhuwah tidak hanya diucap dengan kata, atau sekadar teori belaka, tapi ukhuwah menuntut sebuah amal nyata. Berikut adalah penjelasan tentang hak dalam ukhuwah :

  1. Hak-hak Umum

Hak yang bersifat umum adalah hak yang wajib bagi setiap Muslim terhadap saudara seiman. Adapun perkara terpenting yang berhubungan dengan hak umum ini adalah : menebarkan salam dan menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiring jenazah, memenuhi undangan, menjawab bersin, menepati janji (sumpah), menolong orang yang teraniaya, menjadi pelipur lara bagi yang tertimpa kemalangan, menutupi aib, menjauhi tindakan menyakiti orang lain seperti hasad, saling mendendam, zhalim, menghina, dsb. Dan yang terakhir ikhlas dalam memberikan nasehat.

Dalam sunnah Nabi disebutkan beberapa hadits yang menjelaskan hak-hak ini, di antaranya :

“DIriwayatkan dari Imam Muslim dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Berhati-hatilah kalian dengan sesuatu yang bernama praduga, karena praduga adalah tema perbincangan yang paling bohong, dan janganlah kalian meraba-raba kemungkinan yang dialami orang lain, saling meneliti satu sama lain, saling bersaing, saling menghasut dan mendendam. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara..Muslim adalah saudara kaum Muslim lainnya. Sesama Muslim tidak boleh menzhalimi, merendahkan, dan menghinanya. Taqwa tempatnya ada di sini (Rasulullah sambil menunjuk ke dadanya) dan seseorang akan dianggap jahat apabila dia menghina saudaranya yang Muslim. Sesama Muslim diharamkan saling bertindak jahatl terhadap: darah, Kehormatan, dan harta masing-masing.”

  1. Hak-hak Khusus

Hak ini merupakan hak yang sangat agung dan mulia. Ia memiliki peran yang besar dan sangat penting dalam melatih generasi da’wah Islam. Karena hak ini didasarkan pada upaya mengevaluasi sosok kalangan saudara dan generasi Islam. Sosok terbaik yang dipilih dan dirangkum oleh kalangan Muslim untuk dirinya sendiri ini bertujuan agar dapat membantu dalam menghadapi keadaan berat, menjadi sandaran dalam masa penuh cobaan, sebagai kawan berbagi gembira, sebagai partner untuk bermusyawarah, dan sebagai cermin dalam memberi nasehat dalam menjalani kehidupan. Hak-hak ini mencakup semua karakter manusia yang cintanya karena Allah. Mencakup semua saudara yang bekerja dalam rangka da’wah untuk meninggikan Islam.

Hak-hak khusus ini adalah :

a. Hak uang yang kita miliki

Hak saudara kita ini dapat dipenuhi dengan membantu dan menolong saudaranya dengan harta yang dimilikinya. Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa menghibur dengan uang terhadap saudaranya ada tiga tingkatan; yang paling rendah adalah menanggung kebutuhan saudaramu dari kelebihan harta yang kau miliki. Kedua adalah memposisikan saudaramu dalam posisi dirimu sendiri hingga kamu rela membagi separuh dari hartamu. Dan yang tertinggi adalah mengorbankan kepentinganmu sendiri dan mendahulukan kebutuhan saudaramu, dengan kata lain mengurangi kebutuhanmu demi berkorban untuknya.

b. Hak atas lisan kita

Terkadang seorang sahabat tidak membuthkan harta kekayaan, sehinga ada hak-hak saudara dalam lisan kita, yaitu :

Pertama, membatasi pembicaraan yang menyangkut saudara dalam hal-hal yang baik saja.Jangan memperolok-oloknya, mengejeknya, memutar balikkan fakta tentang dirinya, memarahinya, berusaha menguak rahasia dirinya, mencemarkan nama baiknya, dll. Justru kita harus menutupi kelemahannya dan hal-hal lain yang mengarah dari kegiatan mencela.

Kedua, memanggil saudara kita dengan sebutan dan panggilan terbaik.

Ketiga, mendo’akan saudara kita dan keluarganya.

c. Hak atas hati kita

Hak saudara atas hati tersatukan dalam dua kata, yaitu maaf dan setia. Sebagai saudara, kita harus bias saling memaafkan atas kesalahannya dan berusaha bersikap setia. SIkap setia dapat ditunjukkan dengan terus menjaga dan mempertahankan ukhuwah.

d. Hak atas diri kita sendiri

Yang dimaksud di sini adalah jangan sampai diri kita menjadi beban bagi saudara kita dan jangan pernah mengharapkan sesuatu dari saudara kita,

e. Hak terhadap diri sendiri

Bergembira saat saudara kita mendapatkan kesenangan dan bersedih saat mendapatkan kesedihan adalah termasuk hak saudara terhadap kita.

f. Hak untuk menolong dan mendukungnya

g. Hak untuk mengampuninya dan saling bertoleransi

Untuk saudara di jalan Allah,,

Saudaraku, terkadang manusia terlalu egois dengan dirinya, terkadang kita terlalu asyik dengan urusan kita masing-masing. Mungkin kita lupa pada saudara terdekat kita, saudara yang selalu berada di samping kita. Ketika bertemu di jalan, yang ditanyakan adalah tentang progress amanah, atau basa-basi tentang kabarnya hari ni. Padahal ungkapan yang terbaik adalah salam, lalu berjabat tanganlah dan tunjukkan wajah yang berseri-seri. Tanyakan kabar keimanannya hari ini, kabar kesehatannya, kabar keluarganya, dan akademiknya. Lalu, penuhilah hak-hak dirinya.

Saudaraku, janganlah kalian melupakan kami saat petang menjelang, ingatlah kami dalam doamu, semoga Allah mengumpulkan kita di syurga nanti. Semoga saja Allah akan meneduhkan kita semua dalam naunganNya di hari ketika tidak ada agi naungan selainnya, dan membawa kita semua bersama rombongan orang-orang shalih menuju syurga. Sehingga kita akan masuk syurga bersama-sama. DI sana, kita bias menikmati karunia terbesar yaitu melihat Allah SWT, Sang Kekasih kita, Zat yang menjadi alas an ukhuwah kita ini. Kita juga akan bertemu dengan Rasulullah SAW, para shahabat, dan syuhada.

“Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cintaMu,
bertemu dalam ketaatan ,bersatu dalam perjuangan ….menegakan syariat dalam kehidupan..Kuatkanlah ikatannya…tegakanlah intanya,,tunjukilah jalan-jalannya, ,,terangilah dengan cahayaMu yang takkan pernah padam,,Ya Rabb bimbinglah kami..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: