Ketika Dakwah Tidak Menjadi Berkah

Ga sengaja nemu artikel menarik di bawah ini, saya copase (copy-paste-edit) dari blognya “Betha Poenya”

Semoga bermanfaat🙂

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Ikhwah fillah rahimakumullah…

Sejatinya dakwah menciptakan suatu perubahan, dakwah juga mengubah sesuatu menjadi lebih baik lagi, dakwah yang menggelinding dengan mujahadah dan tadhiyah serta hanya mengharap Ridha-Nya akan dapat menyentuh hati para mad’u, mengubah orientasi para object dakwah, memahamkan orang yang menentangnya, menjadikan islam diterima dan diamalkan segala ajarannya.

Orang-orang yang “bergelar kader dakwah, aktivis dakwah, pendukung dakwah, pejuang dakwah, dikenal dan dianggap sebagai orang-orang yang memiliki komitmen kuat dalam menjalankan semua perintah Ilahi, militansi yang tinggi dalam beraktifitas, baik, mudah bergaul, cerdas dan semua embel-embel yang “dianugrahkan” kebanyakan masyarakat kita.

Kader dakwah juga adalah orang yang senantiasa mengajak pada kebaikan dan orang pertama yang menentang segala kemungkaran. Menjauhi apa-apa yang dilarangNya, bersikap santun, mendahulukan mengenalkan Islam sebelum jama’ah. Qiyamul lail membuat diri ruhiyahnya semakin kokoh menjulang, zakat, infaq, dan shadaqahnya semakin membuat kehidupannya semakin bersahaja dan zuhud. semangatnya meneladani rasulullah saw. membuatnya disukai dan dicintai para objek dakwah.

Dan segala kebaikan yang ada di dalamnya, namun bilamana dakwah tidak menjadi berkah, bahkan menjadi fitnah bagi dunia jika dakwah tidak dikawal oleh pribadi-pribadi yang telah teruji komitmen keislamannya. Tanggung jawab itu ada dipundak kita semua, kewajiban kita semua menjaganya agar tetap menjadi berkah hingga Islam tegak dan menjadi rahmatan lil ‘alamiin.

Aktifitas dakwah, syura’, pertemuan, rapat, bekerja siang malam, telah sedikit membuka tabir. Jika sebelumnya interaksi ikhwan dan akhwat yang sangat terbatas kini menjadi terbuka, berbicara secara bebas membicarakan amanah, strategi, pembagian tugas, konsultasi hingga curhat meskipun hijab terbentang antara keduanya tapi entahlah hijab hati. karena ghadul bashar dan penjagaan hijab letaknya dihati, bukan pada keadaan lingkungan setempat. walaupun telah dipisah dengan hijab, namun jika hati kita tidak terhijab tiada gunalah semuanya. kemajuan teknologi juga semakin membuat hidup tak berjarak dan tak berbatas. Komunikasi via handphone dan sms telah menghidupkan percik api yang terpendam dalam sekam. walaupun terbentang jarak ribuan mil, terpisahkan samudra, dan terbentang antara benua adakah yang dapat memastikan keadaan hati sang user. mulai dari interaksi dalam organisasi, kordinasi acara, sharing problem dilapangan hingga hal-hal yang lebih pribadi. Karena itu bukanlah hal asing ketika terdengar selentingan istilah-istilah yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita. VMJ, HTI*, HTB**, dan istilah lainnya.

Aktifitas dakwah yang sangat berat juga telah banyak membuat para pengusungnya kelimpungan. Hingga mulai telat untuk berjama’ah di masjid, selalu telat menyetorkan hafalan dan menyelesaikan 1 juznya dalam tiap pekan dengan alasan sibuk banyak amanah, biaya yang tidak sedikit untuk “ongkos” dakwah telah membuatnya berfikir untuk menyisihkan sedikit penghasilannya untuk infaq dan shadaqah, aktifitas dakwah membutanya terjaga hingga larut pagi, parahnya ia-pun telat untuk “setor muka” berjama’ah di masjid untuk Sang Penciptanya. Berat menegakkan malam dengan tahajud, sujud yang panjang, dan muraqabah dengan beribu alasan.

Tidak hanya itu, pertemuan pekanan dan daurah pun menjadi korban, alasan pekerjaan, jarak yang sulit ditempuh, tidak ada yang menjemput, ga ada angkutan, ga sempat, baru pulang bepergian, dan berbagai alasan lainnya. Shaum sunah mulai ditinggalkan, alasannya lemes, capek, banyak amanah. lagi-lagi amanah dakwah yang seharusnya menuntut ruhiyah prima menjadi alasan degradasi amaliyah kita.

Sehingga tidak sedikit yang merindukan masa lampaunya ketika masih berada pada Mihwar Tandzimi, “wah kader dakwah dulu mah tahajudnya ga pernah lewat”, “kader jadul mah ga pernah ketinggalan jama’ah di masjid”. Dan beribu statment yang semakin mengundang decak kagum kita akan kemilitanan dan keistiqamahan kader dakwah saat itu. “Bahkan akhi, ada seorang murabi yang pulang kerumah hanya beberapa saat kemudian berangkat lagi untuk mentarbiyah” seperti tak ada henti-hentinya pujian itu. Tapi, kemana semuakah kemilitanan dan keistiqamahan dulu, tidak sedikit yang kemudian futur (OOT: istilah baru untuk yang sering futur = futuristik), kecewa pada jama’ah, malas berdakwah dengan alasan “toh yang lain juga ngga'”, bahkan tidak sedikit yang insilah.

Ikhwah fillah sekalian, sudah menjadi keniscayaan dan konsekuensi dari cita-cita tinggi kita untuk menjadikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, kebertahapan fase harus kita lalui, perkembangan dakwah dan penerimaan luas masyarakat harus kita tanggapi secara bijaksana. bahkan bukan tidak mustahil beberapa tahun kedepan kita melihat acara2 kita hadir juga yang berjilbab gaul bercelana pendek atau bahkan tidak berhijab sama sekali. apakah itu kemunduran? bisa saja saat itu dakwah telah mulai diterima semua kalangan bahkan non muslim sekalipun. Ketika kita telah berada di Mihwar Mu’asasy, bukan berarti tanggung jawab dan pekerjaan kita pada mihwar sebelumnya ditinggalkan. Seorang ustadz mengatakan “ketika kita berada dimihwar mu’asasy berarti bertambahlah tanggung jawab kita, bukan berarti tanggung jawab di mihwar tandzimi hilang”, semakin ofensif dakwah, semakin besar konstituen dakwah, semakin pesat kemajuan zaman maka semakin besar juga tantangannya. Laksana pohon yang semakin tinggi maka semakin kuat angin yang menerpanya.

Aktifitas kita di mihwar ini menuntut ruhiyah yang prima, karena tantangannya sangat berat, medannya sangat terjal, jalannya sangat panjang dan berliku. karena saat ini kita memegang 2 amanah besar yaitu membangun keshalehan pribadi dan orang lain. Dituntut tadhiyah kita, pengorbanan untuk mengurangi waktu tidur untuk menyelesaikan target tilawah kita, mengurangi waktu istirahat untuk menambah khazanah keilmuan kita, mengurangi biaya kebutuhan pribadi untuk kebutuhan dakwah, dan meluangkan waktu kita untuk sama2 berjuang dalam dakwah dengan segala dan sesuai pada kemampuan yang kita miliki. insya Allah jika para kader pengusungnya telah memiliki itu dakwahpun akan menjadi berkah kembali. Insya Allah…

Wallahu a’lam bishshawaab…ini bukan menggurui atau paling tau atas segala masalah umat, tapi tulisan ini adalah reflesi dari kehidupan sehari-hari yang ana alami.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

3 responses to this post.

  1. Posted by danang on December 15, 2008 at 7:59 am

    semua berawal dari komitment. ketika komitment tealah terazam dengan kuat di hati, semua rintangan pasti akan di hajar. Namun adakalanya suatu waktu kita menjadi futur, nah saat itulah sebaiknya saudaranya mengingatkan dan menyemangati.

  2. Posted by linda on January 13, 2009 at 5:01 pm

    wah. subhanallah, bagus skl artikelnya.
    Semangat XV! AllahuAkbar!

  3. Posted by dina on March 19, 2010 at 6:33 am

    Ya, begitulah memang.
    Salut bagi kader dakwah yang istiqamah, tak melulu menghabiskan waktu untuk mengemban amanah, tapi juga cinta menghadap Sang Khalik.
    Semoga ke depan makin banyak kader dakwah yang demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: