Ada apa dengan “Sodaqollahul Adzim” ???

Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula sayangnya para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca ayat AlQuran. Ada apa gerangan dengan kalimat ini ? Lalu bagaimanakah hukumnya Mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran. Apakah diperbolehkan dianjurkan dalam syariat? Mari kita simak keterangan-keterangan di bawah ini dengan seksama.


Pertama

Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas’ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata,

“Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.”

Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud “cukup”.

Kedua

Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata,

“Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya –Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.

Tidak dinukil satu kata pun bahawa Jibril atau Nabi Muhammad ketika selesai qiroatul Quran mengucapkan “sodaqollahul adzim”.

Ketiga

Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik –radiyallahu anhuma-, “Nabi berkata kepada Ubay,

“Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , ”menyebutku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis”.

Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat itu.

Keempat

Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi’ bin Al Ma’la –radiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda,

“Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.”

Beliau tidak mengatakan “sodaqollahul adzim”.

Kelima

Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda,

“Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya –yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).

Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya.

Keenam

Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’ bin ‘Ajib berkata,

“Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.

Dan beliau tidak mengatakan setelahnya “sodaqollahul adzim”.

Ketujuh

Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata,

“Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur’aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.

Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya “sodaqollahul adzim” dan tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat “qaaf” mengucapkan “sodaqollahul adzim”.

Dari riwayat-riwayat diatas dapat disimpulkan bahwa, nabi maupun para sahabat tidak pernah mengucapkan “sodaqollahul adzim” ketika selesai membaca alqur’an. Dengan demikian sudah sepantasnya kita menirunya karena mereka lebih paham mengenai cara membaca Al Qur’an daripada siapapun.

Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai rujukan setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang yang beriman. Allah berfirman, “Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab 36)

Namun penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim” setelah qiroatul Quran adalah tidak pernah dicontohkan nabi dan para sahabat, kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya daripada Allah”, dan Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya dari pada Allah”. Barang siapa yang mendustakanya –firman Allah- maka ia kafir atau munafiq.

Demikian hujjah yang kami kemukakan, Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wallahu’alam.

4 responses to this post.

  1. alhamduLILLAH mnmukan hujjahny dsni.
    Pas skali,krn bbrp wktu yg lalu sy brbicr d suatu forum ttg mslh ini namun tdk hafal hadistny.
    Sbaikny para da’i mmg mnyrtakan rujukan(Quran&sunnah) saat mgtakan suatu hal agar objek dakwah lbih mantap hatiny.

    Smgt kominfo!smoga stiap hurufny mgalirkn pahala bgi kalian.amin.

  2. Posted by matasalman on April 28, 2009 at 4:21 am

    @ radian
    alhamdulillah…
    amin. terima kasih akhi atas doanya. semoga bermanfaat

  3. Apa yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, asalkan itu tidak menyangkut hukum Islam yang harus ditaati, dan itu baik/tidak menyesatkan maka itu tidak apa-apa dilaksanakan. Contohnya pengucapan “sodaqollahul adzim” (Maha Suci Allah dengan segala Firmannya) setelah membaca Al-Qur’an dan tidak usah dibuat masalah/diperdebatkan yang tiada habisnya, atau diutak-atik sehingga mengesankan itu tidak pernah dicontohkan/diajarkan oleh Rasulullah. Hampir di seluruh dunia setelah membaca Al Qur’an mereka umumnya membaca “sodaqollahul adzim”. Para ulama juga tidak melarangnya, karena memang tidak ada kata yang salah/buruk tentang pengucapan kata “sodaqollahul adzim”. Yang terpenting bagaimana kita membaca Al Qur’an secara tartil (dengan bacaan ilmu tajwid yang benar/tidak asal membaca, sehingga bisa merubah artinya) serta memahami isi kandungannya serta menjadi pedoman hidup kita sehari-hari. Itulah makna yang paling utama dari keutamanaan Al-Qur’an. Terkadang kita ini merasa paling pintar tentang ilmu-ilmu hadist, tafsir Al Qur’an, ilmu-ilmu fiqih, dll. yang semuanya itu adalah ilmu-ilmu tentang lahiriah (syariah). Belajar ilmu-ilmu syariah saja tanpa mau belajar tentang ilmu hakikat (makna) atau ilmu ma’rifat (mengenal Allah) akan menjadikan kita sombong (merasa paling pintar). Dan akhirnya hawa nafsu kita yang cenderung mengendalikan perilaku kita yang suka mencela orang, membid’ahkan orang, menyakiti hati orang, menyalahkan orang karena merasa paling benar, mensyirikkan orang bahkan mengkafirkan orang (sesama muslim). Bila stempel ini kita berikan kepada sesama umat Islam karena berbeda pandangan, sesungguhnya kita sendiri yang akan dilaknat oleh Allah. Biarkan mereka berbeda pandangan dengan kita, toh mereka juga punya dasar hukum sendiri yang mereka anggap benar. Hidup ini memang ada pro dan kontra, ada positif-negatif, ada baik-buruk, dll., tapi semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT, sebagai penilai kebenaran tertinggi, bukan kita manusia yang ilmunya sangat terbatas. Sedangkan belajar ilmu hakikat/makrifat tanpa didasari ilmu syariat itu juga bisa menyesatkan. Marilah kita selalu introspeksi diri, rendah diri walaupun ilmu kita banyak. Banyak sekali orang pandai tapi tidak mengerti. Bila kita tidak mengerti tentang suatu ilmu hendaknya diam dan balajar pada orang yang mengerti. Bila kita mengerti sedikit ilmu, maka jangan suka mencela orang. Banyak orang bisa membaca Al Qur’an tapi tidak sampai di kerongkongannya (tidak mamahami isinya dengan benar, karena mementingkan hawa nafsunya). Marilah kita jadikan Al Qur’an sebagai sinar dunia sampai di akhirat kelak.

  4. hermanto@komen di atas bagus saya setuju..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: