Apakah air musta’mal boleh digunakan untuk bersuci?

“….dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu….” (Q.S. al-Anfaal [8] : 11)

Kita tahu bahwa alat untuk bersuci adalah air, yakni air yang suci dan bisa menyucikan tentunya. Ccontohnya air hujan. Demikian juga dengan air yang ada di bumi. Air ini bisa dipakai untuk bersuci karena air tersebut merupakan air hujan yang diserap oleh tanah. Akan tetapi, bagaimana dengan air musta’mal (air yang tersisa dalam bejana dan telah tepercik oleh sisa air yang dipakai untuk berwudlu atau mandi)? Apakah air ini bisa dipakai untuk bersuci? Karena mungkin saja air ini sudah terkena suatu hal, apakah hal tersebut najis ataupun bukan najis.

Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa air musta’mal ini tidak dapat dipergunakan untuk bersuci. Alasannya merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud r.a. bahwa “Rasulullah Saw melarang seorang perempuan mandi dengan air bekas laki-laki atau laki-laki dengan air bekas perempuan”. Dalam hadis ini ditegaskan bahwa air yang telah tepercik oleh bekas air wudlu atau mandi tidak boleh dipakai untuk bersuci.

Pendapat kedua menyatakan bahwa air musta’mal boleh digunakan untuk bersuci. Pendapat ini merujuk pada hadis berikut. “Rasulullah Saw mandi dengan air bekas Maimunah (istrinya)” (H.R. Muslim dari Ibnu Abbas r.a.). Dalam hadis ini dijelaskan bahwa Rasulullah Saw pernah mandi besar menggunakan bekas atau sisa air yang pernah dipakai istrinya. Hal ini menunjukkan bahwa air musta’mal boleh dipergunakan untuk bersuci karena air tersebut hanya tepercik oleh air bekas wudlu atau mandi, bukan ternodai najis.

Dari kedua hadis tersebut, kita bisa melihat ada kontradiksi di antara keduanya. Lalu, manakah di antara kedua hadis tersebut yang sebaiknya kita ikuti? Dalam hal ini kita bisa menentukannya berdasarkan periwayatnya. Hadis yang menjadi rujukan pada pendapat pertama diriwayatkan oleh Abu Daud sedangkan hadis yang menjadi rujukan pada pendapat kedua diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hal ini, para pakar hadis menilai bahwa status hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim lebih shahih daripada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Dengan demikian, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pendapat kedua lebih kuat dibandingkan dengan pendapat pertama karena dalil yang dijadikan rujukannya lebih shahih atau lebih kuat. Jadi, air musta’mal boleh digunakan unutuk bersuci, baik berwudlu maupun mandi.

Wallahu a’lam

Sumber: Aam Amiruddin, “Sudah Benarkah Shalatku?: Panduan Gerakan dan Bacaan Shalat”, (Bandung: Khazanah Intelektual, 2008), hlm. 5-6.

3 responses to this post.

  1. subhanallah, syukron yah artikelnya. *Kebetulan saya lagi cari rujukan ttg hal ini …

    * Tidak ada yang kebetulan di dunia ini

  2. Artikel yang

    sungguh menakjubkan sekali…
    always succes..!!!:)

  3. Posted by andree on February 5, 2013 at 12:28 pm

    terima kasih
    atas infonya
    Moga sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: