Tafsir Al Azhar QS Al Ashar

وَالْعَصْر

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Allah telah bersumpah atas nama waktu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya waktu. Dunia terus berputar dan berlalulah  masa demi masa, suka dan duka, masa muda dan masa tua. Ada masa hidup, kemudian mati dan tinggallah kenang-kenangan ke masa lalu. Setelah itu kita pun akan pergi ke alam kubur dan habislah masa yang kita pakai dan yang telah lalu tidaklah dapat diulang lagi, dan masa itu akan terus dipakai oleh manusia yang tinggal, silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”   (ayat  2).  Di  dalam masa  yang dilalui itu manusia hanyalah merugi. Dalam hidup tidak ada keuntungan sama-sekali. Hanya rugi yang didapati,  Sehari  mulai   lahir ke dunia,  di  hari itu pula usia sudah berkurang satu hari.  Setiap hari dilalui, sampai hitungan bulan dan  tahun, dari muda ke tua, hanya kerugian jua yang didapat. Di waktu kecil senanglah hati dalam pangkuan ibu, itu pun merugi karena belum merasakan arti hidup dan hanya menjadi beban bagi orang lain. Setelah beranjak dewasa menjadi mandiri dan berkeluarga. Namun kerugian pun datang lagi. Sebab hidup mulai banyak tanggung jawab. Dan tanggung jawab akan lebih besar lagi bila anak telah terlahir yang harus dididik dan diasuh sampai  sang anak mandiri.

Di waktu badan masih muda dan gagah perkasa harapan tergantung diatas langit. Tetapi bilamana usia mulai lanjut barulah kita sadar bahwa tidaklah semua yang kita angankan di waktu muda bisa tercapai. Banyak pengalaman di masa muda telah menjadi kekayaan jiwa setelah tua. Kita berkata dalam hati supaya beginilah yang seharusnya dikerjakan, begini  mengurusnya, begitu melakukannya, dsb. Pengalaman di masa muda adalah sangat berharga.

Tetapi kita tidak ada kekuatan lagi buat mengerjakannya. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah menceriterakan pengalaman itu kepada yang muda agar bisa lebih baik dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Sesudah itu kita bertambah lemah, bertambah letih, bahkan mungkin menjadi beban bagi anak dan cucu. Sesudah itu kita pun mati! Itu kalau umur panjang. Kalau usia pendek kerugian itu akan lebih besar lagi. Belum ada apa-apa kita pun sudah pergi. Kerugian dan kerugian yang ada pada hidup.

Kecuali  orang yang beriman.” (awal ayat  3).  Yang  tidak akan merasakan kerugian dalam masa hanyalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Manusia datang ke dunia ini sementara waktu, namun masa yang  sementara  itu dapat  diisi  dengan baik karena ada kepercayaan, ada tempat berlindung. Iman menyebabkan manusia sadar dari mana datangnya. Iman menimbulkan kesadaran apa arti dia hidup di dunia ini, yaitu hanyalah untuk beribadah kepada Maha Pencipta. Iman menimbulkan keyakinan bahwasanya sesudah kehidupan ini da kehidupan lagi. Itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang kekal. Disana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia ini akan diberi nilainya oleh Allah. “Dan beramal  yang  shalih,” bekerja yang baik dan berfaedah. Sebab hidup itu adalah suatu kenyataan dan mati pun kenyataan pula, dan manusia yang di sekeliling kita pun suatu kenyataan pula.  Yang baik adalah terpuji dan yang buruk adalah merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Cahaya Iman yang telah  tumbuh dalam jiwa telah menjadi keyakinan, dengan sendirinya akan menimbulkan perbuatan yang baik.  Dalam kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun bergerak. Maka hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju! Berhenti sama dengan mati. Mengapa kita berdiam diri? Mengapa kita berpangku tangan? Tubuh kita mempunyai kecenderungan untuk bergerak, maka kita pun haruslah aktif  bergerak. Bekerja hanyalah satu dari contoh, kerja baik atau kerja jahat.

Setelah kita meninggal dunia kita menghadapi dua kenyataan. Kenyataan pertama adalah,  kenang-kenangan terhadap orang yang kita tinggalkan. Amal kita semasa hidup, akan menjadi kenangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan. Kenangan itu hidup lebih lama daripada masa hidup kita sendiri. kenyataan yang kedua ialah bahwa kita kembali ke hadirat Allah.

Dan sebagai Mu’min kita percaya bahwa di sisi  Allah lah amalan yang kita  kerjakan  itulah menjadi pembela atau beban kita dihadapan Allah. Dan beruntunglah orang-orang yang menghiasi hidupnya dengan amal yang shalih sehingga hidupnya tiada merugi. “Dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran”. Karena bahwa hidup itu adalah hidup bermasyarakat. Kita merupakan makhluk sosial. Maka hubungkanlah tali silaturahmi dengan sesama manusia, saling memberi peringatan tentang kebenaran. Supaya yang benar itu dapat dijunjung tinggi bersama. Saling mengingatkan pula mana yang salah, supaya yang salah itu sama-sama dijauhi.

Dengan demikian beruntunglah masa hidup. Tidak akan pernah merasa rugi. Karena setiap personal merasakan bahwa dirinya  tidaklah  terlepas dari   orang lain. Dan rugilah orang yang menyendiri, yang menganggap kebenaran hanya untuk dirinya sendiri. “Dan berpesan-pesanan dengan Kesabaran”. Tidaklah  cukup  kalau hanya  saling berpesan tentang Kebenaran. Sebab hidup di dunia itu tidaklah datar saja. sering kaki ini   terantuk duri, tersandung batu. Berbagai halangan merintangi hidup kita ini.  Kesusahan dan kemudahan datang silih berganti.

Banyak orang yang merugi karena dia tidak tahan menempuh rintangan dan halangan dalam hidup. Dia rugi sebab dia mundur, atau dia rugi sebab dia tidak berani maju. Dia berhenti di tengah perjalanan. Padahal berhenti sama artinya dengan mundur. Sedangkan umur berkurang juga.

Maka kerugianlah  yang akan menyertai  masa hidup ini. Bila tanpa disertai dengan yang empat ini: (1) Iman, (2) Amal shalih, (3) Ingat-mengingat tentang Kebenaran, (4) Ingat-mengingat tentang Kesabaran,

Ibnul  Qayyim di  dalam kitabnya “Miftahu Daris-Sa’adah” menerangkan;  “Kalau keempat  martabat telah tercapai oleh manusia, maka hasilnya adalah kesempurnaan hidup.  Pertama: Mengetahui Kebenaran. Kedua: Mengamalkan Kebenaran itu. Ketiga: Mengajarkannya kepada orang yang belum tau. Keempat: Sabar di dalam mengingatkan dalam menghadapi cobaan. Jelaslah susunan yang empat itu di dalam Surat ini.

Dalam Surat ini Allah menerangkan martabat manusia.  Dan Allah bersumpah,  demi  masa, bahwasanya tiap-tiap orang merugi dalam hidupnya kecuali   orang   yang   beriman.   Yaitu   orang yang mengetahui kebenaran lalu mengakuinya. Itulah martabat pertama. Beramal yang shalih, yaitu setelah kebenaran itu diketahui lalu diamalkan; itulah martabat yang kedua. Berpesan-pesanan dengan Kebenaran itu, tunjuk menunjuki jalan ke sana. Itulah martabat ketiga. Berpesan-pesanan, nasihat-menasihati, supaya sabar menegakkan kebenaran dan teguh hati jangan bergoncang. Itulah martabat keempat. Dengan demikian tercapailah kesempurnaan.

Sebab kesempumaan itu ialah sempurna pada diri sendiri dan menyempumakan pula bagi orang lain. Kesempurnaan itu dicapai dengan kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Dan menyempumakan orang lain ialah dengan mengajarkannya kepada mereka dan mengajaknya bersabar dalam berilmu dan beramal.

Imam asy-Syafi’i berkata: “Kalau seluruh manusia di muka bumi ini mau merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya.”

Maka segala puji bagi Allah yang telah membuat Surat ini, meskipun pendek namun isinya mengumpulkan kebajikan dengan segala cabang rantingnya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kitabnya mencukupi dari segala macam kitab, pengobat dari segala macam penyakit dan penunjuk bagi segala jalan kebenaran.”  Wallahu’alam bishshawwab.

Pustaka : http://www.scribd.com/doc/13350610/103-AlAshr

2 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum wrwb. Kajian yang sangat bagus. Allah dan Rasul-Nya memang harus ‘dihadirkan’ di dalam ‘waktu’. Al Qur’an adalah ‘Tali’ silaturahim-Nya. As-Sirath Al-Mustaqim-Nya. Jalan kita semua untuk ‘Kembali’. Jalan menuju ‘Kemenangan’-Nya. Jalan menuju ‘Keridhoan’-Nya.
    Jalan ‘kembali’ untuk menuju ‘Asma da Af’al’-Nya. Jalan untuk memper-saksi-kan Tauhid-Nya. Teruslah berjalan, wahai saudara-saudaraku, persaksikalah diri-Nya dan Rasul-Nya.

  2. assalamu’alaikum…

    ikut berkunjung,,
    sungguh pencerahan yang menyentuh sekali..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: