Syahadat, sebuah makna penghambaan yang hakiki (1)

Dua kalimat syahadat, kalimat yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Dua kalimat yang sering kita dengarkan saat adzan berkumandang, baik di masjid, televisi, maupun radio. Dua kalimat yang juga sering kita ucapkan saat sholat di dalam keadaan tahiyat. Sehingga saking seringnya didengarkan maupun dilafalkan, kalimat ini menjadi seakan kehilangan maknanya. Nah, sekarang yang juga menjadi pertanyaan adalah sampai sejauh manakah makna kalimat syahadat ini dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?

Firman Allah SWT,
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Q.S. Ibrahim : 24-25)

Islam merupakan konsep yang membawa pada keselamatan dan kemanfaatan. Ibarat pohon yang baik, ia akan mengakar di hati manusia yang fitrah (suci), kuat, terjunjang kokoh dalam keyakinan dan kepribadian mereka. Apabila dipupuk dan disiram secara rutin, bila tiba masanya, pohon yang mengakar kokoh tadi akan menghasilkan buah yang lezat dan bermanfaat. Syahadat sebagai kalimat yang diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu senantiasa memberikan buahnya yangbaik pada setiap musim. Ibarat pohon, setiap muslim dalam berbuat baik senantiasa mengharapkan ridho Allah yang kekal dan pasti.


Kalimat syahadat adalah pilar utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadat maka rukun Islam lainnya akan runtuh. Benar dan tegaknya syahadat dalam kehidupan seseorang akan menegakkan ibadah dan agama dalam hidupnya. Di kalangan masyarakat Arab yang hidup di zaman nabi SAW, mereka memahami betul apa makna dari kalimat syahadat ini. Dalam sebuah peristiwa, Nabi SAW mengumpulkan ketua-ketua Quraisy dari kalangan bani Hasyim, Nabi SAW bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat di mana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Kemu-dian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, seluruh kalimat pun aku terima.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Ucapkan Laa ilaaha illa Allah dan Muhammadan Rasulullah.” Abu Jahal menjawab, “Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.” Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan maknanya, justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang tunduk, taat, dan patuh kepada Allah SWT saja. Dia sebagai pemimpin merasa gengsi jika agama yang telah turun-temurun dari nenek moyang digantikan oleh agama yang dibawa oleh anak bau kencur seperti Muhammad. Abu Jahal takut kehilangan loyalitas dari kaumnya. Dia tahu betul apa makna dua kalimat syahadat tersebut dan konsekuensinya. Berarti dia harus meninggalkan tata cara beribadah kepada Allah dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah lewat media berhala. Meninggalkan haji dan thawaf di sekeliling berhala, mening-galkan sesajen yang mereka pilih berupa makanan dan minuman yang dikhususkan untuk disajikan dan dipersembahkan kepada berhala. Yang pasti, mereka mempunyai banyak sebab dan alasan untuk memberikan sesaji kepada berhala, yang tidak akan sampai kepada Allah, dan apa yang mereka sajikan kepada Allah hanya sampai kepada berhala-berhala mereka.


Firman Allah dalam Q.S. Al An’am: 136, Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persang-kaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka, amat buruklah ketetapan mereka itu.

 

Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah dalam mengaplikasi-kan syahadat. Oleh karena itu, syahadat dalam arti kata bertauhid kepada Allah harus benar-benar dipahami secara mendalam. Pemahaman oleh seorang muslim terhadap tauhid secara mendalam dan menyeluruh akan dapat berimbas pada perubahan-perubahan individu, keluarga, ataupun masyarakat. Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk, Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifat-sifatNya. Sebab, sudah menjadu sunnatullah bahwa tauhid menuntut sikap yang tunduk, taat, dan patuh kepada Allah SWT saja. Mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepadaNya, pengagungan, penghormatan, rasa takut, doa, pengharapan, taubat, tawakal, minta perto-longan, dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling mendalam, semua itu wajib ditujukan khusus kepada Allah semata, tidak boleh ditujukan kepada selainNya.


Setiap Rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain. Firman Alah SWT:
“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Q.S. Al A’raf: 59, 65, 73,85)
Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, katakanlah: “Sesungguhnya aku dipe-rintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Tauhid adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau tidak terwujud, maka bercokollah lawannya, yaitu syirik.
Kembali tentang syahadat, beberapa urgensi tentang bersyahadat antara lain adalah syahadat merupakan pintu masuk ke dalam Islam. Syahadat menjadi pembeda muslim dan kafir. Tanpa mengucapkan syahadat, maka amal yang dikerjakan bagaikan fatamor-gana, terlihat tetapi sesungguh-nya tak ada. Firman Allah SWT, Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (Q.S. Muhammad: 19)
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Laa ilaaha illallah” mereka menyombongkan diri. (Q.S. Ash Shaffat: 35)
Syahadat merupakan intisari dari ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muham-mad, dan rasul-rasul sebe-lumnya. Syahadat adalah dasar-dasar perubahan, syahadat mampu merubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya. Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima dua kalimat syahadat sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah SWT. Sahabat yang dapat menjadi teladan adalah Mush’ab bin Umair, yang tentu kisahnya sudah banyak kita dengarkan dan ketahui.
Maka, marilah kita mere-nungi dan menghayati kembali syahadat kita, apakah sudah benar atau belum. Wallahu a’lam.
bersambung…

 

Senin, 19 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: