Tentang Idul Fitri

Idul fitri akan segera menjelang, namun sekiranya ada 2 fenomena yang maknanya telah terbelok, yaitu:

1. Arti

Menurut lughoh/bahasa bahwa lafadz fithri yang memiliki susunan huruf fa-tha-ra berasal dari kata fithru/ifthar yang artinya berbuka (yakni berbuka puasa, jika terkait dengan puasa). Bukan fithrah yang tulisannya fa-tha-ra-tha marbuthah yang berarti suci.

Adapun menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa Idul Fithri itu ialah Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa“Dari Abi Hurairah (ia berkata), sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan korban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan.”  SHAHIH. Lafadz ini dari riwayat Tirmidzi No. 693.

Namun juga dikeluarkan oleh Imam-imam dengan jalan dari Abi Hurairah:

  1. Imam Ad-Daruquthni, lafadznya: “Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka.”
  2. Dalam lafadz Imam Ibnu Majah No. 1660: (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adha pada hari kamu menyembelih hewan.”
  3. Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud No. 2324: “Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka sedangkan (Idul) Adha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan.”

Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya (yang dalam bahasa Inggris disebut breakfast, artinya membatalkan puasa), sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat ‘Id. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.

2. Ucapan

Sering kita dengar ucapan “Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin” atau “Taqabbalallahu minna waminkum shiyamana wa shiyamakum kullu amin, wa antum bi khair”, namun benarkah hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika Idul Fithri?

Yuk, kita mengartikannya bersama-sama:

Min, artiinya “termasuk”
Al-aidin, artinya ”orang-orang yang kembali”
Wa, artinya “dan”
Al-faidzin, artinya “menang”
Sehingga, Minal Aidin wal Faidzin, kira-kira memiliki arti semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan.
Jadi, memang salah ketika Minal Aidin wal Faidzin diartikan menjadi mohon maaf lahir dan batin.
Dan perlu dicatat, kalimat di atas biasa diucapkan oleh para sahabat ketika pulang dari peperangan, bukan ketika hari raya Idul Fithri.

Trus, gimana dong?

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul-Bari 2/310 mengatakan: “Kami meriwayatkan dari guru-guru kami dalam Al-Mahamiliyyat dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair, beliau berkata: Para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila mereka saling jumpa pada hari raya, sebagian mereka mengucapkan pada lainnya: ‘Taqabbalalloohu minnaa wa minka.’

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni 2/259 menyebutkan: “Bahwasannya Muhammad bin Ziyad pernah berkata : Aku pernah bersama Abu Umamah Al-Bahily dan selainnya dari kalangan shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; apabila mereka kembali dari ‘Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian yang lain: ‘Taqabbalalloohu minnaa wa minka.’
Imam Ahmad berkata: Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus).

Arti dari Taqabbalallahu minna wa minka adalah semoga Allah SWT menerima (amal ibadah) kami dan (amal ibadah) Anda.
Kalo “Kum” itu untuk jamak, sehingga artinya semoga Allah SWT menerima (amal ibadah) kami dan (amal ibadah) kalian.

Hanya saja kallimat itu tidak diteruskan dengan “Shiyamana wa shiyamakum” (puasa kami dan puasa anda) “Kullu ‘amin wa antum bi khoir” (semoga kita semua senantiasa dalam kebaikan)

KESIMPULAN

Hari Raya Idul Fitri memiliki makna hari raya kembali berbuka. Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah sebulan kita berpuasa.
Kalimat yang dicontohkan oleh Rasulullah ketika Idul Fithri adalah mengucapkan Taqabbalalloohu minnaa wa minkum, adapun kalimat lain jika diniatkan untuk mendoakan (bukan mencontoh Rasulullah ketika Idul Fithri), tidak apa-apa.

CMIIW wallahu’alam

Keluarga besar Majelis Ta’lim Salman ITB mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
Taqabballahu minna waminkum…

One response to this post.

  1. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriyah,
    Minal Aidzin Wal Faidzin,
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin,
    Mari kita sambut hari esok dengan hati baru,
    dengan tingkah laku baru yang lebih baik…

    (saatnya makan ketupat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: