Cintamu kepada Saudaramu

Cintamu kepadanya

 

Surat dari seorang saudari kepada saudarinya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ukhti… yang terhormat,

Ana menerima laporan dari sebagian murid  dan beberapa rekan Anti, bahwa dalam proses perkuliahan tahsin di kelas Anti, ada kekurangan yang perlu Anti benahi.

Kekurangan itu terletak pada cara Anti menyampaikan materi. Sebagian murid Anti mengeluh karena mereka tidak dapat dengan mudah memahami penjelasan Anti. Karena itu, demi mereka, Ana mohon Anti berusaha untuk menyampaikan materi dengan lebih baik.

Bisa jadi, materi tidak tersampaikan dengan baik karena memang kurang dikuasai  oleh pemateri. Bila itu yang terjadi, sudah seharusnya ia meningkatkan penguasaan materinya. Bisa juga mereka sulit memahaminya karena ia menyampaikannya terlalu cepat. Bila ini masalahnya, hendaklah materi itu disampaikan berulang-ulang. Atau mungkin saja mereka susah memahaminya karena saat materi itu disampaikan, mereka kurang bersemangat akibat suasana yang kaku atau membosankan. Bila ini yang terjadi, humor, games, curhat, atau yang sejenisnya perlu disisipkan untuk menumbuhkan gairah mereka dalam belajar.

Selain itu, beberapa rekan Anti mengatakan bahwa Anti kurang konsisten dalam mempraktekkan tahsin ketika membaca Alqur’an. Pendeknya, bagaimana supaya mereka bisa memahami materi dengan baik, itulah yang hendaknya Anti upayakan.

(Anonim)

 

Nasihat-menasihati merupakan sebuah keniscayaan dalam sebuah kumpulan orang-orang (jama’ah) yang menyeru kebaikan. Berhubungan dengan hal ini memang diperlukan subjek dan objek dari nasihat-menasihati tersebut. Sesungguhnya ketika kita bertindak sebagai subjek (orang yang menyampaikan) nasihat justru kita menjadi objek pertama dari nasihat yang kita sampaikan. Allah dengan tegas menyatakan dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff ayat 3 : Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Ada satu hal ironis yang perlu dicatat, KETIKA KITA INGIN SELALU MEMPERBAIKI DIRI KITA MAKA PERBANYAKLAH MEMBERI NASIHAT. Artinya adalah ketika kita menyampaikan nasihat ada sebuah tanggung jawab besar yang harus kita persaksikan di hadapan Allah nanti, sehingga menimbulkan sebuah dorongan yang sangat besar pada diri ini untuk terlebih dahulu memenuhi dari apa yang kita nasihatkan. Di samping itu, secara tidak sadar ternyata kita telah memenuhi prasyarat dari orang yang tidak merugi setelah beriman dan beramal shalih yaitu menasehati dalam kebaikan.

Selanjutnya dalam bernasihat ini ada beberapa hal yang kita perhatikan, yaitu ikhlas. Nasihat  secara bahasa berasal dari nash yang artinya bersih atau murni, sehingga konsekuensi dari keikhlasan adalah ridho Allah (Allah ghayatuna) dan jauh dari harapan memperoleh pujian dari orang lain. Kemudian nasihat ini juga adalah buah dari keimanan bukan representasi dari hawa nafsu atau pernyataan yang menyinggung atau menyakiti saudara kita secara frontal. Sungguh buah dari keimanan adalah manis, enak dan gurih. Ketika menyampaikan buah dari keimanan, aspek perhatian utamanya adalah qalbu. Sekali lagi saya sampaikan SMS saya ketika POKJA dulu : ”Sesuatu yang keluar dari hati akan sampai ke hati sedangkan yang keluar dari mulut paling hanya sampai ke telinga saja”. Salah satu grup nasyid (Hawari) pernah juga bersyair bahwa raja diri itu adalah hati, ketika perintah itu keluar dari rajanya yang benar maka rakyatnya (mulut, mata, telinga) juga akan melaksanakan dan menyampaikan yang benar.

 

-Rizky Febrian, Korum MaTa’ XVI-

 

Selain keberanian, ternyata menasihati itu butuh kepekaan…

 Tertulis dalam Bukom:

Di kala mata-mata manusia masih tidur lelap

Kami, para pemuda bangkit serentak dengan sigap

Bagai burung yang menyongsong fajar dengan cepat dan mantap

Kami, para pemuda yang turun ke gelanggang untuk mempertahankan kemuliaan

Barangsiapa bergegas menuju kemenangan, ia akan bisa merebut kemenangan

Aku buka dadaku sebagai buku catatan

Dan di atasnya kutuliskan puisi ini dengan pedang

 

(Kenshin, Samurai X)

 

 

 

 

Komentar :

 

Kok tokohnya Kenshin? Bukankah tokoh-tokoh Muslim masih banyak? Bukankah para sahabat juga ada? Mengapa kita “mencintai” non-Muslim melebihi cinta kita kepada Muslim?

Ingat, salah satu ciri cinta adalah banyak menyebut tentangnya (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Ingat, bahwa cinta itu adalah satu bagian dari perwalian, dan

Ingat, bahwa wali kita adalah Allah, Rasul, dan kaum Muslimin

 

-Muhammad Arif Romdhoni, Mata’ 2003-

 

Sesungguhnya yang paling dekat dengan mulutku adalah telingaku sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: