Adakalanya Kita Harus Menerima Bahwa Kita Memang Sedikit

Hanya dua ekor kuda ditambah tujuh puluh ekor unta yang mereka miliki. Satu ekor bisa dinaiki dua sampai tiga orang dari mereka. Sedang yang lain melenggang kaki, berjalan biasa tanpa kendaraan satu pun. Dengan perbekalan seadanya saja, namun semangat mereka jauh dari seadanya. Termasuk juga Ukasyah, salah satu dari mereka yang hanya membawa pedang dari kayu akar pohon pemberian Rasulullah. Tak ada gentar baginya, kayu tersebut disandang dengan penuh kebanggan untuk dapat membela kaum muslimin. Mereka tau, di depan sana, seribu pasukan musuh menghadang. Tidak main-main, seribu orang dengan perbekalan dan persenjataan yang lengkap. Dengan dada membusung, juga wajah beringas, mereka siap menerkam pasukan kaum muslimin yang terlihat tak ada apa-apanya. Hanya pasukan biasa, dengan tiga orang berdesak-desakan dalam satu kuda, juga prajurit biasa yang bangga dengan pedang kayu. Tak ada apa-apanya.

Badar, tempat mereka melihat lautan manusia itu. Seribu, dengan persenjataan lengkap siap membantai. Lalu Rasulullah sebagai pemimpin bersiap siaga. Tak ada dari mereka yang mundur berhianat, gentar akan lautan manusia yang mereka lihat. Tidak, bahkan Al-Miqdad bin Amir berkata,

“Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana bani Israel berkata kepada Musa: Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja. Tetapi pergilah engkau bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau.”

Tak hanya Al-Miqdad, Saad bin Muadz tak rela ketinggalan,

“Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah.”

Lalu mereka menepati janjinya, bertempur dengan segalanya. Harta juga jiwa, tak sayang mereka korbankan. Tak ada yang menoleh ke belakang, bertanya-tanya, “Di mana mu’min yang lain?”. Padalah jumlah mereka hanya 317, ya… 317 dari 1000.

Dari kisah perang Badar, bahwa jumlah yang sedikit tak mustahil untuk mengalahkan jumlah yang banyak atas izin Allah. Namun hal tersebut sudah sering dibahas. Saya akan membahas hal lain yang menurut saya menarik. Saya hanya tertarik pada reaksi spontan kaum muslimin pada perang Badar. Dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit dibandingkan dengan kafilah dagang Abu Sufyan yang jumlahnya 1000, tak ada ungkapan dari mereka, “Di mana mu’min yang lain?” atau “Mengapa kami yang harus turut serta sedangkan yang lain dapat bersantai-santai di rumah?” atau “Mengapa kami yang harus dikorbankan?”. Padahal secara logis mereka kalah telak.

Menarik sekali membandingkan tingkah polah para sahabat dengan realita yang terjadi saat ini. Berapa banyak kondisi yang pada akhirnya membuat kader da’wah merasa dikorbankan/ ditumbalkan dengan amanah yang diberikan kepadanya. Padahal di mata orang lain, secara logis, ia mampu.. bahkan lebih daripada sekedar mampu mengemban amanah itu secara biasa-biasa saja. Atau ketika hanya sedikit kader da’wah yang membantu, kemudian ia mengeluh, bahwa ia merasa ditinggalkan, merasa lelah karena harus mengerjakan ini semuanya.

Mungkin kapasitas kita memang tidak sehebat para Sahabat, tetapi saya tidak bicara mengenai kapasitas. Sejak awal saya hanya membicarakan reaksi spontan, bukan kapasitas. Masalah kapasitas yang dimiliki, apakah mampu menampung beban amanah, biarlah waktu yang menjawab. Namun sejak awal reaksi, “Kenapa saya yang memikul amanah ini?” atau “Saya tidak rela jika saya berlelah-lelah mengerjakan amanah ini, sedang yang lain dapat bersantai-santai” semestinya tidak dilontarkan oleh orang-orang yang (katanya) aktivis. Pasifis namanya jika ia hanya bersantai-santai. Dengan itu, ada mindset yang perlu diluruskan terkait amanah. Terlepas dari kewajiban untuk beramal jama’i, tidak pantas ‘meminta-minta’ uluran tangan bantuan saudara yang lain untuk memikul amanah ini.

Amanah tidak akan pernah salah memilih, siapa yang ia bidik, dialah yang Allah takdirkan mampu. Jika masih merasa dikorbankan, sendiri, atau didzolimi untuk memikul beban lebih berat, pertanyaannya, ‘Apa ruginya?’, tidak cukupkah janji Allah bahwa Ia akan menolong siapa saja yang menolong agamanya? Para ahlul Badar sadar betul akan hal ini. Itulah yang membuat mereka tidak menoleh ke belakang, kemudian menghabiskan effort mereka untuk sekedar bertanya, “Kemana yang lain?”. Ternyata kita masih jauh.. Hmmpphh..

Adakalanya, terimalah bahwa jumlah kita memang sedikit. Lalu, tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk sekedar ‘menyeret-nyeret’ orang yang sejak awal memang tak ingin bergeming. Sadarilah bahwa lebih baik waktu kita digunakan untuk mencapai tujuan, bukan sekedar konsolidasi internal semata. Jika kemenangan da’wah datang, percayalah bahwa mereka akan berbondong-bondong turut serta. Terimalah bahwa kita memang sedikit, setelah itu tingkatkan kapasitas diri juga kesabaran, agar nilai diri bisa 10 kali lipat dari kondisi awal.

Tak perlu kita menoleh ke belakang, terlalu banyak hal lain yang harus kita selesaikan untuk mencapai kemenangan da’wah. Biarlah mereka yang tak mau turut serta, tak perlu turut serta. Siapa tau kita tidak tahu saja, bahwa mereka punya amal unggulan lain yang sibuk dikerjakan. Semangat Ahlul Badar harus kita contoh. Jika semua diniatkan untuk Allah, semestinya tidak perlu ada yang merasa dikorbankan atau ditinggalkan. Semua amal yang engkau kerjakan tentu akan kembali kepadamu, bukan kepada lumbung amal orang lain.

Tak perlu menoleh, yang perlu kita lakukan hanya menerima bahwa kita memang sedikit. Dan itu tidak mengindikasikan bahwa kita telah kalah. Bercermin pada kisah Badar..

 

Allahua’lam bisshowab

 

-Linda Studiyanti, MPOPS XVII-

 

 

One response to this post.

  1. Reblogged this on serpihan pelangi and commented:
    Karena sesungguhnya, kuantitas tidak berbanding lurus dengan kualitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: