Mereka Bilang, Kita Degradasi

Part 1#

Generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitannya. Sesungguhnya sejarah umat adalah sejarah para tokoh yang dilahirkannya, yang memiliki mentalitas kuat dan hasrat nan membara. Kuat lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauh mana kemampuan “rahim” umat itu melahirkan tokoh-tokohnya yang memenuhi syarat sebagai pelopor.

Bagi umat, tidak ada bekal yang dapat digunakan untuk menghadapi situasi yang buas ini kecuali hati yang sarat iman, hasrat yang kuat dan kemauan yang keras, sikap murah hati dan kesediaan berkorban, serta kesiapan terjun ke medan juang pada waktunya. Tanpa ini semua, umat akan hancur, perjuangan senantiasa menuai kegagalan, dan nasib tak menetu bakal menimpa generasinya.

Mentalitas kita—hari-hari ini—sungguh membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Cita-cita besar yang menggelayuti akal pikiran para da’i pembaharu di satu sisi, dan problematika yang demikian berat di sisi yang lain, menuntut kita untuk segera memperbaharui mentalitas dan membangun jiwa kembali dengan bentuk bangunan yang bukan sekedar sebagaimana yang pernah kita miliki; yang telah lapuk dimakan usia dan telah lenyap ditelan berbagai tragedi. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.

***

Batu pertama selalu menjadi tolak ukur bagi kelanjutan suatu hal. Demikian pula dengan generasi. Generasi awal -seperti yang sering kita dengar- selalu memiliki cerita-cerita khas mereka dengan dengan segala euforianya. Tentang bagaimana mereka dibentuk dan oleh siapa mereka dibina. Sungguh kita percaya akan segala kejayaan masa lalu itu, karena prasastinya adalah mereka—para generasi awal yang kita kenal.

Tongkat estafet terus berpindah dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Transfer nilai-nilai normatif dilakukan informal. Tidak melulu melalui teori verbal, tapi lebih sering karena proses melihat dan meniru. Apa yang dilihat, itulah yang ditiru. Semakin banyak melihat, maka semakin banyak pula meniru. Selesai meniru, lalu dikembangkan menjadi sebuah improvisasi aktif yang berbeda dengan tiruannya. Improvisasi tersebut bermula dari ketidaksesuaian dan pendapat bahwa ada hal lain yang mestinya. Lalu kemudian, mungkin inilah yang disebut gradasi. Masih gradasi kecil dan tidak terlihat.

Jika tongkat estafet terus berpindah lalu kemudian regenerasi dilakukan lagi dan lagi, maka untuk kemudian gradasi yang terjadi akan semakin banyak dan generasi ujung tidak akan tahu di mana generasi awal meletakkan batunya. Mereka mencari dan terus mencari namun hanya dapat meraba-raba di mana letak si batu. Tapi, roda zaman terus berjalan. Tak pernah roda berhenti berputar menunggu kepahaman dari generasi baru, generasi barulah yang harus mengejar dan terus mengejar agar tidak tertinggal.

Gradasi yang terjadi antara satu generasi ke generasi lainnya, baru ke lama, tentu menimbulkan efek kontras antara kondisi awal dan kondisi akhir. Untuk kemudian saya sebut ini degenerasi. Namun benarkah karena kuantitas? Sebagian mungkin ya, namun tak dapat dipungkiri bahwa seiring berputarnya roda zaman, berputar pula tipe karakternya. Perbedaan inilah yang menyebabkan respon yang berbeda terhadap sesuatu. Pemaknaan terhadap kualitas pun lalu kemudian berbeda. Meminjam istilah teman saya, bahwa bukan karena tidak berkualitas, namun ini hanya masalah karakter penyikapan. Tentu saja ini hanya untuk urusan-urusan cabang, bukan yang wajib.

Mereka bilang, kita degradasi. Hanya saja, hanya itu yang kita tau. Banyak cerita dulu yang kita dengar, namun tetap saja kita tidak pernah ada pada zaman itu, maka dari itu pengejawantahan cerita tidak pernah penuh. Lalu, bagaimana dengan roda zaman? Ia akan terus bergerak dan bergerak. Maka tugas kita lah terus mempersiapkan diri dan generasi penerus. Sebagian orang terlihat nyinyir, tak mempercayai bahwa generasi degradasi—seperti yang mereka bilang, dapat melahirkan generasi. Gradasi yang terjadi semakin parah katanya.

Kami tidak hendak diam. Dalam ketidaktahuan terhadap kondisi lalu, kami hanya berupaya bertindak mengikuti parameter kualitas pada zamannya. Setiap zaman ada rijalnya masing-masing dan kami yakin, merangkak masih lebih baik daripada diam tak bergeming. Itulah hal terbaik yang dapat kami usahakan. Dan tak pernah ada dalam pikiran kami, bahwa kami ingin lebih baik daripada generasi penerus kami. Biarkan mereka lebih baik dan jauh melampaui kami. Baik, dengan tolak ukur kualitas baik dimana zamannya berada. Dan pikiran inilah yang terus melekat. Mungkin

kami tak tahu apa itu terbaik, tapi kami ingin selalu tahu bagaimana terus menjadi lebih baik.

Biidznillah.

Bangkitlah, Harapan itu Masih Ada.

Sungguh, harapan itu masih ada.

Jika hari gelap, mungkin saja sebentar lagi matahari kan terbit.

Wallahua’lam bisshowab.

220910

 

-Linda Studiyanti, MPOPS Mata’ XVII-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: