Payung

 

Ingatkah? Tahun lalu pada bulan September, hujan mulai sering turun, sama seperti hari-hari terakhir ini. Well, sebenarnya saya tidak terlalu ingat sejak bulan apa hujan mulai turun tahun lalu. Yang saya ingat, hanya… pada bulan September itu, hujan sering turun. Dan pada bulan itulah saya “mulai sering” membeli payung.

Ya. Mulai sering.

Entah kenapa, payung yang saya beli tidak pernah bertahan lama bersama saya. Sebabnya bermacam-macam. Pernah rusak, pernah juga dipinjam lalu tidak kembali. Dan sebab yang paling sering terjadi adalah: tertinggal lalu hilang. Periodenya juga bermacam-macam. Bisa dua minggu, seminggu, tiga hari, satu hari, bahkan tiga jam.

Suatu saat, saya shalat Dzuhur di Masjid Salman. Saat itu hujan turun sangat deras. Karena pukul 13.00 WIB saya harus kuliah dan hujan belum kunjung reda, akhirnya saya membeli sebuah payung di toko Istek Salman, dan akhirnya saya kuliah dengan selamat. Pukul 15.00 WIB, saat saya selesai kuliah, hujan sudah reda. Merasa tidak membutuhkan suatu apapun lagi, saya segera meninggalkan ruang kuliah dan pulang. Saya baru sadar kemudian, kalau payung baru saya tertinggal di depan kelas. Maka, saya titip kepada teman saya yang sedang kuliah di ruangan itu, untuk membawakannya. Keesokan harinya, teman saya membawakan payung saya. Tapi di hari itu pula, saya segera kehilangan payung saya.

Saya trauma, tidak berniat membeli payung lagi. Melihat payung secantik apapun, saya tidak mau membeli. Buat apa membeli hanya untuk beberapa hari?

Tapi, keadaan berkata lain. Saat saya hendak pergi menginap ke rumah teman di daerah Kebon Kembang, hujan turun lagi dengan sangat deras. Dan saya terpaksa membeli payung lagi. Dan… paginya, saat saya meninggalkan rumah itu, lagi-lagi saya melupakan payung saya.

Huff… saat itu, saya benar-benar tidak mau membeli payung lagi.

Tapi lagi-lagi sebuah keadaan memaksa saya untuk membeli payung. Maka hari itu, di akhir bulan November 2010, saya membeli sebuah payung berwarna biru muda. Sambil membeli, saya berazzam bahwa payung biru muda saya ini akan bertahan lebih lama daripada payung-payung saya yang lain. Dia akan bertahan bersama saya sampai 1 Februari 2011!!!

Dengan azzam saya itu, saya berusaha menjaganya baik-baik. Tapi, suatu hari, saya pulang ke rumah kontrakan saya saat hujan deras. Payung saya basah sekali. Saya tidak tega membawanya masuk ke dalam rumah, khawatir becek dan saya malas bersihin. Hehe.. Maka saya meninggalkannya di luar rumah. Keesokan harinya, payung saya sudah tidak di depan pintu. Huff… saya pasrah.

Tapi keesokan harinya, tetangga saya, yang juga pemilik rumah kontrakan saya memberikan sebuah payung. Katanya, kemarin ada payung tergeletak di depan pintu, karena khawatir hilang maka diamankan. Huaaahh… saya senang sekali. Berarti saya masih punya kesempatan untuk menjaganya.

Hari-hari berlalu, saya mulai lupa dengan azzam saya tentang payung itu. Dan payung biru muda itu masih bersama saya. Beberapa perjalanan jauh saya lakukan dengan tetap membawa payung itu. Dia selalu ikut ke manapun saya pergi.

Pada suatu hari di bulan Januari 2011, kakak saya jatuh sakit, sampai dirawat inap di Rumah Sakit di Bandung. Sepulang dari Rumah Sakit, kakak saya istirahat di rumah paman saya di Adipura, dareah Gedebage, Bandung. Maka, saya bertugas untuk membawakan beberapa barang kebutuhan kakak saya dari kosannya ke rumah paman saya itu.

Malam itu, saya naik angkot jurusan Cicaheum-Ciwastra dari Pusdai dan akan turun di ujung rute angkot itu, di dareh Derwati. Hujan turun sangat deras saat itu. Di daerah Bodogol, seorang ibu yang merupakan satu-satunya penumpang selain saya, meminta sopir angkot untuk mengantarkannya sampai depan rumahnya. Katanya, suaminya tidak bisa menjemput karena hujan deras. Setelah minta persetujuan saya, sang sopir angkot pun bersedia. Ternyata rumah si ibu itu memang jauh dari tempat turun angkot. Saya kasihan juga kalau si ibu harus naik becak atau ojek. Setelah mengantarkan ibu itu, angkot pun mengantarkan saya sampai perhentian terakhir angkot, Derwati. Hujan sudah reda saat saya sampai. Saya segera turun dari angkot lalu naik ojek, satu-satunya angkutan ke rumah paman saya.

Setelah mengucapkan salam dan masuk rumah, tiba-tiba saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Lalu saya bermonolog di tengah rumah:

“Kok kayaknya tadi Layung bawa sesuatu ya? Kok sekarang tangan Layung kosong??…”

“Ah!! Payung!!!…”

“Aaahhh… ketinggalan lagiii..!! Huuh…”

“Eh, bentar. Tanggal berapa sekarang??…”

“Wah, 1 Februari!!!”

“Masya Allah, astaghfirullah…”

“Hahahaha…”

 

***

 

 

Hari ini, saat hujan turun lagi, saat saya hampir saja meninggalkan payung saya lagi, saya mengingat kisah itu. Bukan, bukan tentang payung… Karena payung yang sekarang bersama saya, sudah lebih dari 5 bulan menemani saya.

 

Tapi, tentang keajaiban kata-kata.

 

Keajaiban azzam, yang ketika datang dari hati, yang datang dari kemuakan pada kelalaian, dan disampaikan pada Allah, maka tanpa disangka-sangka ia menjadi nyata. Bahkan terlalu nyata.

 

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (Q.S. Ali Imran : 159)

 

ITB Qur’ani, bukan mimpi. Insya Allah…….

 

-Layung Anindya Prasetyanti, MPOPS XVII-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: