Dialah Sang Ratu di Hatimu

Aku tak pernah benar-benar bisa menyelisik hatimu

Di mana kau tempatkan aku setelah Tuhan dan Rasul kita?

                              

Aku percaya kau, Anakku.

Orang taat agama sepertimu pasti paham perkataan Sang Nabi.

Bahwa akulah pertama, kedua, dan ketiga yang paling berhak kau istimewakan*

 

Aku percaya singgasanaku masih di sana.

Hanya saja kau kadang sedikit terlupa.

Bahwa seharusnya akulah ratu di kerajaanmu

 

Nak, Ibu tak pernah bilang kau harus pulang seminggu sekali.

Paling tidak, tengoklah kami sesekali

Selagi kami sehat dan kau pun masih kuat

 

Ibu bangga kau orang sibuk, orang penting, orang hebat!

Setidaknya sempatkanlah pulang sekaliiiii saja

Bukanlah tiga bulan liburanmu masih milikmu

Meski beberapa hari untuk rumahmu

 

Ya, Ibu tahu itu kontribusi namanya

Saat kau berlelah-lelah dari rapat ke rapat

Ibu tahu itu partisipasi namanya

Saat kau berpayah-payah dari diklat ke diklat

Ibu tahu itu amanah namanya

Saat kau berdarah-darah mengayuh perahu organisasimu

 

Ibu tidak akan menyalahkanmu

Jika kau lebih betah tinggal di kotamu

Daripada sekadar singgah di dusun kita

Yah, namanya juga desa

Mau cari internet susah

Mau cari mall juga susah..

Tapi jika kau bicara kontribusi

Bukankah pulangmu meringankan derita para tetangga

Karena anak-anak mereka yang berisik hanya mau mengaji denganmu

Juga kau bisa membantu adik-adik kelasmu

Kau masih ingat biologi, matematika, dan sedikit fisika kan?

 

 Ah, Nak

Apalah artinya delapan jam perjalanan

Jika pamrihnya adalah peluk cium ibumu

Derai tawa ayahmu

Gelak canda adikmu

 

Begitulah, Nak

Maka kutunggu kau…

setiap hari…

 

 

* Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Seorang lelaki pernah mendatangi Rasulullah, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Lelaki itu bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Lelaki itu bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Lelaki itu bertanya (lagi), ‘Kemudian siapa lagi?’ Lelaki itu menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

#Bukan iklan operator telepon seluler :

Nak, kalau tidak bisa pulang, sering-seringlah menelepon atau SMS

 

-Risha Amilia Pratiwi, MPOPS XVIII-

2 responses to this post.

  1. 🙂 very nice indeed!

  2. Indah sekali pesannya…Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang sholeh dan bersopan santun kepada para orang tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: